SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiPendidikan Network IndonesiaSains & TeknologiTeknologi & PendidikanE-MajalaH IndonesiaTeknologi Pendidikan Indonesia
Halaman UtamaSoftware KomputerHardware KomputerBahan PembelajaranLembaga & Sekolah TI
 HOME/Situs Berita Kita
 Teknologi/Pembelajaran
 Berita Khusus Kegiatan
 Info Teknologi Baru
 Mengenai E-Teknologi
 Konservasi PerAiran
  
Conservation PerAiran

  
 PariWisata PerAiran
  
Pariwisata PerAiran

  
 Berita Penerbangan
  
Pendidikan Penerbangan

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  
 
Rendahnya Akses Internet, E-Book Tak Efektif
By admin
Wednesday, June 17, 2009 19:15:00 Clicks: 283 Send to a friend Print Version
Rendahnya Akses Internet, E-Book Tak Efektif

Rabu, 17 Juni 2009 | 19:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com ? Dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet sehingga program buku sekolah elektronik dinilai tidak efektif.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh pengamat pendidikan Darmaningtyas, di Jakarta, Rabu (17/6). Menurutnya, minimnya jumlah sekolah yang bisa mengakses internet tersebut menunjukkan bahwa program dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) berupa Buku Sekolah Elektronik (BSE) atau e-book belum efektif.

Jadi ada sekitar 17.500 sekolah yang tidak terakses internet, ujarnya. Bisa dibayangkan kalau download materi pelajaran di internet kemudian di-print out, biayanya jauh lebih mahal dari pada beli buku cetak, lanjutnya.

Mendapati hal tersebut, Depdiknas kemudian menggandeng salah satu percetakan milik Jawa Pos Grup yakni PT Temprina Media Grafika untuk mencetak buku-buku elektronik secara massal. Hanya, lanjut dia, Depdiknas sendiri tidak mengalokasikan biaya distribusi. Alhasil, yang dihitung hanya biaya cetak, padahal ongkos distribusi ke sekolah-sekolah di Indonesia bagian timur sangat besar.

Jadi wajar, jika kemudian pelaksanaan program itu tersendat, ujarnya.

Menurutnya, yang harus diubah oleh Depdiknas adalah biaya distribusi sehingga orang-orang dari daerah yang ingin mencetak buku elektronik itu bisa langsung mendistribusikannya.

Selain itu, kata dia, pemerintah baru menjalin kerja sama dengan PT Temprina Media Grafika saja. Sementara, dengan percetakan lainnya belum dilakukan.

Tapi dugaan saya, perusahaan itu hanya mencetak untuk daerah-daerah di mana dia punya percetakan. Kalau seperti itu, bagaimana dengan daerah-daerah yang tidak punya percetakan dan bagaimana distribusinya jika harga buku dipatok Rp 10.000 per eksemplar, katanya.

Untuk itu, kata dia, jika pemerintahan cerdas, maka tentunya akan bekerja sama dengan percetakan lokal agar distribusi buku-buku murah tersebut merata di semua daerah. Apalagi kalau pemerintah daerah (pemda) ikut mencetak dan mendistribusikannya, maka kemungkinan harga buku bisa ditekan.

Tujuan dari e-book itu sendiri kan menekan harga buku di pasaran, katanya.

LTF
Sumber : Antara

Sumber: Kompas.Com
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/06/17/
19153198/Rendahnya.Akses.Internet..E-Book.Tak.Efektif.
 
More E-Teknologi dan TIK Berita
. Pilih Android Demi Untung
. India Luncurkan Laptop Seharga Rp335.000
. DPR: E-Book Tak Bermanfaat di Pedesaan!
. CommunicAsia 2009 Dipadati Pengunjung
. Wah, SMKN 7 Samarinda Produksi Laptop Massal!
. Robot, Mahal meskipun Makin Diminati Pelajar
. A-Data Classic CH91, Harddisk Portabel nan Kompetitif
. Samsung S2 Portable, Harddisk Berfisik Paling Kecil
. Western Digital Caviar Green, Berkapasitas 2TB
. Harga Nokia N97 antara Netbook dan Notebook
 E-TEKNOLOGI DAN TIK
India Luncurkan Laptop Seharga Rp335.000
Pilih Android Demi Untung
Rendahnya Akses Internet, E-Book Tak Efektif
DPR: E-Book Tak Bermanfaat di Pedesaan!
CommunicAsia 2009 Dipadati Pengunjung
Wah, SMKN 7 Samarinda Produksi Laptop Massal!
Harga Nokia N97 antara Netbook dan Notebook
Western Digital Caviar Green, Berkapasitas 2TB
Samsung S2 Portable, Harddisk Berfisik Paling Kecil
A-Data Classic CH91, Harddisk Portabel nan Kompetitif
Robot, Mahal meskipun Makin Diminati Pelajar
Industri Kreatif TI akan Naik 20 Persen
ITS Mulai Bangun Pusat Ilmu Robotika Nasional
Industri Digital Indonesia Tumbuh 100 Persen pada 2010
Satu Guru Satu Laptop